Catatan Orang Awam

aku ini hanya seperti anak kecil yang bermain di tepi laut yang menemukan batu halus dan kerang yang lain dari biasanya, tetapi samudera kebenaran itu sendiri tetap tertutup bagiku. -Isaac Newton-
Total Pageviews
Flag Counter SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Labels

Robot Kapal Tanpa Awak Buatan UI & TNI AL



Robot Kapal Tanpa Awak Buatan UI & TNI AL
Makara-02


TNI AL sebagai penjaga kedaulatan wilayah laut RI terus mengembangkan dan memperbaharui kemampuan tempurnya. Salah satunya adalah mengembangkan proyek kapal tanpa awak yang diberi nama Sea Ghost Project.

Dalam proyek itu, TNI AL bekerja sama dengan mahasiswa UI yang terdiri dari M. Hary Mukti & Aditya Meisar (Teknik Perkapalan), Ricky (Teknik Mesin), Novika Ginanto & Irvan JP Elliika (Teknik Elektro) serta M Anwar Ma’sum (Ilmu Komputer).

Konsepnya adalah cyber warfare dalam pertahanan Indonesia, dimana nantinya kapal tanpa awak ini akan dikendalikan melalui komunikasi satelit. Kapal ini digunakan untuk melakukan penyerangan terhadap kapal penyusup.

Jika kapal tanpa awak ini terkena serangan hacker atau virus dalam komunikasi datanya oleh penyusup yang menjadikan gerakan kapal tanpa awak ini menjadi kacau atau tak terkendali, maka Pusinfolahta–Mabes TNI akan melakukan perlawanan terhadap virus atau serangan hacker sehingga kapal tanpa awak ini dapat dikendalikan kembali dan memulai penyerangan terhadap kapal musuh/penyusup kembali.



Raih Penghargaan

Kapal tanpa awal yang diberi nama Makara-02 ini sebelumnya telah meraih penghargaan desain terbaik se-Indonesia dan berhasil melampaui 4 rintangan secara otomatis (fully autonomous) tanpa kendali dibandingkan peserta lain pada Kontes Kapal Cepat Tak Berawak 2012 untuk kategori Autonomous yang dilaksanakan di Pantai Kartini-Jepara melalui bimbingan Dosen Perkapalan (Dr. Ir. Sunaryo, M.Sc) dan Dekan FTUI (Prof. Dr. Ir. Bambang Sugiarto, M.Eng).

Makara-02 merupakan robot kapal tanpa awak yang dikembangkan dari Makara-01, yaitu robot kapal tanpa awak sebelumnya yang dilombakan di Amerika Serikat.

Robot kapal tanpa awak ini berdimensi 4.94ft x x 2.96ft 0.73ft dengan sistem kendali otomatis berdasarkan sensor kamera (image processing). Aspek kunci dari desain Makara-02 adalah desain berteknologi tinggi yang memperhatikan aspek stabilitas dan hambatan yang sangat rendah merupakan perpaduan antara SWATH (Small Waterplane Area Twin Hull) dan teknologi Wave Piercing sehingga kapal jauh memiliki nilai inovasi yang tinggi.

Robot kapal tanpa awak Makara-02 ini nantinya akan digunakan sebagai model untuk uji towing tank untuk memprediksi hambatan pada Sea Ghost yang berukuran Fleet Class, yaitu memiliki panjang kurang lebih 10 m dan memiliki payload lebih dari 2 ton, sehingga stabilitas kapal sangat baik ketika dilengkapi persenjataan dan sistem komunikasi yang canggih.

Pengembangan kapal tanpa awak ini maju pesat di Amerika Serikat, Israel dan bahkan telah digunakan di Singapura.





Sumber

Saturn Robot Tank | Inovasi Anak Bangsa yang dikagumi Dephan Inggris

saturn robot tank

SIAPA SANGKA di Swindon, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar dua jam berkendara dari London, seorang anak bangsa kelahiran Jombang, Jawa Timur yang bernama Dr. Subchan, peneliti di Cranfield University, Shrivenham Campus di Oxfordshire, Inggris, bersama timnya dinyatakan sebagai pemenang Minister of Defense (MoD) Grand Challenge 2008.


MoD Grand Challenge adalah lomba bergengsi untuk mencari teknologi terapan di dunia militer yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Inggris. Subchan bersama Tim Stellar mengembangkan Saturn (Sensing and Autonomous Tactical Urban Reconnaissance Network).

Saturn adalah robot yang berfungsi mendeteksi ancaman musuh. Bukan sembarang robot. Saturn adalah robot terpadu yang memiliki tiga komponen, baik di darat maupun udara, yang bisa mengidentifikasi kekuatan dan posisi musuh di medan pertempuran.



Tim Stellar adalah gabungan antara Cranfield University, Stellar Service Ltd, Blue Bear System Ltd, SELEX Sensors, dan Airborne System Ltd, TRW Conekt, dan Marshall Specialist Vehicles.

”Robot ini bisa menggantikan manusia untuk mengintai kekuatan dan posisi musuh, tanpa beresiko terlihat atau diketahui lawan,” jelas Subchan yang lulusan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) jurusan matematika 1994.


Karena berbagai kelebihan itu, Subchan dan Team Stellar dinyatakan unggul dibandingkan peserta lomba yang lain. Andy Wallace, perwira militer dari Departemen Pertahanan Inggris, mengakui ingin mendapatkan produk teknologi yang membuat misi prajurit di medan tempur semakin aman. ”Kami ingin tentara yang bertugas di lapangan makin aman dan keselamatan mereka terlindungi,” kata Wallace kepada stasiun televisi BBC.

Dalam konteks perang modern, lanjut Wallace, produk teknologi seperti yang dikembangkan Subchan dan timnya memang sangat relevan. Medan yang asing dan sulit, membutuhkan piranti yang bisa sangat membantu prajurit tempur.

Robot yang dikembangkan Team Stellar ini terdiri atas dua pesawat kecil dan satu kendaraan darat. Semuanya tanpa awak. Wahana ini dilengkapi dengan sensor radar, panas, dan visual. Untuk menyelaraskan kerja ketiga robot ini, sekaligus menganalisis hasil yang didapat, dibuat semacam pusat mengendali terpadu.

Tiga komponen robot yang dikembangkan Team Stellar itu punya fungsi sendiri-sendiri yang saling menunjang. Pertama, pesawat tanpa awak yang terbang tinggi. Alat ini berfungsi memetakan wilayah dan mengetahui medan. Pesawat ini bisa mendeteksi kendaraan militer; tank, bahkan sniper (penembak jitu) lawan.

Namun, untuk bom pesawat, alat ini tidak bisa mendeteksi secara akurat. Itulah sebabnya dibuat robot kedua dan ketiga berupa pesawat tanpa awak yang terbang rendah dan satu robot darat (ground vehicle). Kedua robot terakhir ini lebih berfungsi untuk mengecek atau melakukan verifikasi terhadap temuan pesawat pertama yang terbang tinggi.

Subchan, yang menempuh master bidang applied matematics (S2) di Delft University of Technology di Belanda pada 1998-2000 ini terlibat di bagian desain dan pengembangaan kendaraan udara dan darat tanpa awak. ”Ini memang pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan otak,” kata pria kelahiran Mei 1971 itu.

Dia menceritakan, proyek robot militer ini dimulai sekitar pertengahan 2007. Selama kurang lebih setahun, Tim Stellar yang menggabungkan beberapa perusahaan pertahanan dan Cranfield University itu mengembangkan dan menguji coba Saturn di lapangan. Uji coba dilakukan di beberapa tempat di Inggris.

“Proyek ini membuat saya sering ke lapangan dan menghabiskan waktu di alam terbuka. Kadang selama berhari-hari menyempurnakan Saturn,” kata anak kedua dari empat bersaudara pasangan Abdul Muin dan Djamilah ini.

Dalam enam bulan, hampir tiap minggu Subchan dan timnya ke lapangan menguji Saturn. Waktu yang terbatas memang menjadi salah satu kendala pengembangan Saturn. Bahkan, sampai babak final pun, masih ada beberapa masalah yang mengganjal.

”Pada proofing event (pembuktian produk) yang berlangsung selama lima hari, kami sempat khawatir karena sampai hari ketiga komunikasi antara stasiun pengendali di darat dan robot kendaraan tidak begitu bagus,” kata bapak lima orang anak itu. Untunglah pada hari keempat, persoalan bisa diatasi.

Menurutnya, salah satu tantangan yang harus dilakukan setiap tim adalah dalam waktu satu jam harus mendemonstasikan hasil temuannya di Village of Copehill Down, di Salisbury Plain, Wiltshire, Inggris, yakni sebuah perkampungan yang khusus dibuat untuk latihan militer.

Kondisi perkampungan itu dibuat sedemikian rupa mirip dengan medan peperangan, lengkap dengan snipers, bom, tank, peluncur roket, hingga aktor yang berperan sebagai tentara lawan dan penduduk sipil.

Dalam tantangan seperti itu, robot peserta MoD Grand Challenge harus bisa membedakan mana yang ancaman dan mana warga sipil biasa.

‘‘Saya sangat bersyukur bisa menang,” kata suami Ima Imadatul yang pernah empat tahun bekerja di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) sebelum menjadi dosen ITS.

Subchan layak berbangga karena dari 11 tim yang mengikuti lomba ini hanya enam yang masuk babak final. Dan dari enam ini, Team Stellar menang dan berhak atas penghargaan bergengsi RJ Mitchell Trophy. Tropi yang mengambil nama perancang pesawat Spitfire Fighter, pesawat tempur legendaris pada pertempuran Battle of Britain.

Penelitian pertahanan dan keselamatan sipil memang bukan dunia yang asing bagi Subchan. Cranfield University, tempat Subchan sekarang bekerja sebagai peneliti, memang memiliki studi pertahanan. Di sinilah dulu ia menyelesaikan S3 di bidang Guidance and Control (panduan dan kendali). ”Berbagai proyek yang saya ikuti hampir semuanya memiliki kaitan dengan pertahanan,” kata Subchan.

Setelah lulus doktor, Subchan meneruskan post doctoral pada Departement Informatics and Sensors pada universitas yang sama dengan bidang yang ditekuninya sekarang: decision making, data fusion, mission planning and control (bidang pengambilan keputusan, penggabungan data, dan perencenaan misi).

Ia mengaku tidak pernah membayangkan dan berencana menjadi peneliti militer. Tapi kuliah S3 di Cranfield University membuatnya menekuni penelitian dan pengembangan teknologi militer. Ia pernah meneliti ‘awan yang tercemar nuklir’. Bila semisal ada kebocoran di reaktor nuklir, Subchan membantu menentukan luas wilayah yang tercemar bahan berbahaya. Dari sini bisa ditentukan warga di wilayah mana yang harus diungsikan karena kebocoran nuklir tersebut.

‘‘Inilah yang membuat saya senang dan menikmati bidang saya. Ada hasil nyata yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia,” kata Subchan yang juga sering menjadi pembicara pada forum pengajian di Swindon dan London.

Untuk masa depan Saturn yang ia kembangkan bersama Team Stellar, ia belum tahu persis kapan selesai dan dipakai oleh kalangan militer. Departemen Pertahanan Inggris berminat mengembangkan robot dan piranti ciptaan timnya. Yang jelas, teknologi yang dipakai sangat kompleks dan membutuhkan dana yang besar. "Kalau dananya tersedia mungkin Saturn bisa hadir lebih cepat," katanya.

Kenapa tidak untuk Indonesia?
tapi, ya ini adalah gambaran, bahwa SDM Indonesia, mampu


Sumber

SMART EAGLE II - Elang Mekanis Serba Bisa



Smart Eagle II merupakan prototype pertama UAV (Unman Aerical Vehicle) yang dibuat PT. Aviator Teknologi Indonesia guna kepentingan intelijen di Indonesia, terutama bagi operaional BAIS (Badan Intelijen Strategis).

UAV buatan Indonesia ini pertama kali diperkenalkan kepublik pada Indo Defence 2006, saat itu ada beberapa prototype lain yang juga diikutsertakan diantaranya Wallet- UNV Tactical dan RAI buatan PT. Mandiri Mitra Muhibbah.

Ini merupakan hasil pengembangan dan penelitian bersama antara Departemen Pertahanan dan Industri Strategis yang dimiliki Indonesia.


Spesifikasi

Selaku wahana pengamatan berjarak jangkau menengah Smart Eagle II (selanjutnya disebut SE-II) pertama kali muncul di depan publik pada penghujung tahun 2005. SE II merupakan salah satu komponen dari seperangkat sistem pengamatan via udara tanpa awak yang terdiri atas wahana udara (air vehicle), muatan (payload), dan stasiun pengendali (ground control station). 

Dimensi fisik SE II adalah sebagai berikut. Panjang badan total mencapai 3,6 meter sementara lebar rentang sayap 4,8 meter dan tinggi (dari permukaan tanah hingga ujung sirip ekor) sekitar satu meter. Dengan bobot kosong 65 kilogram dan bobot maksimum tinggal landas (maximum take-off weight) 100 kilogram, SE II sanggup terbang selama hampir enam jam seraya mengusung beban muatan seberat 20 kilogram. 

Tempo terbang ini mencakup dua jam untuk menuju dan pulang dari tempat operasi serta empat jam untuk beraksi. Bermodal bahan bakar bensin sebanyak 20 liter, SE II dapat terbang sejauh 150 kilometer dan setinggi 30 kilometer dengan kecepatan jelajah normal (cruise speed) 120 kilometer per jam. Namun dalam kondisi darurat kecepatan terbang SE II dapat digenjot hingga 150 kilometer perjam agar bisa menjangkau lokasi sejauh 300 kilometer.


Kinerja

SE II dapat dimodifikasi agar sanggup mengusung aneka jenis muatan yang disimpan dalam ruang pada bagian tengah bawah badan pesawat berdiameter 26 sentimeter. Muatan dapat berupa seperangkat kamera pengamat berstabilisator giro (gyro-stabilized device) dan sarana tayang hasil pengamatan.


Skala perbesaran optis tampilan obyek bidik (zooming optical scale) kamera ini 25 kali. Jika perlu arah bidik kamera dapat dilengkapi alat penjejak sasaran yang dipandu sinar laser (laser beam range finder) berjangkauan 10 kilometer. Atau bisa juga berupa seperangkat kamera pengamat berstabilisator giro dan sensor citra termal (thermal image sensor) yang juga dibantu alat penjejak sasaran berpanduan sinar laser. 

Berkat keduanya, SE II mampu mendeteksi satu obyek berukuran empat meter persegi dalam jarak tiga kilometer. Segala gerak gerik SE II dikendalikan oleh dua operator di stasiun pengendali. Operator pertama mengatur olah terbang dan operator kedua mengoperasikan perangkat pengamat. 

Komunikasi umum antara SE II dengan stasiun pengendali dilakukan lewat alat komunikasi tanpa kabel (wireless communication device) yang bekerja pada frekuensi 2,4 Giga Hertz. Untuk mengirim sinyal perintah operasi kepada SE II dipakai perangkat komunikasi yang bekerja pada gelombang elektromagnetik berfrekuensi UHF (Ultra High Frequency) sementara untuk menerima data hasil pengamatan dipakai perangkat komunikasi yang bekerja pada pita gelombang elektromagnetik tipe S (S-band). 

Sistem kendali penerbangang SE II memanfaatkan sistem fly by wire dan untuk keperluan navigasi mengandalkan perangkat penentu lokasi Global Positioning System (GPS). Agar data hasil pengamatan SE II juga dapat disaksikan pihak di luar stasiun pengendali pada waktu yang bersamaan maka disertakan unit penerima data mobil (mobile receiver unit). 

Guna menjalankan seluruh kegiatan operasional ini dibutu*kan tenaga listrik sebesar lima kilo Watt yang dipasok oleh dua unit pembangkit tenaga listrik bergerak skala kecil (mobile genset). Selain itu unit operasional SE II juga melibatkan unit perawatan dan penyedia suku cadang. Seluruh sistem operasional SE II dapat disiagakan kedelapan awaknya dalam waktu dua jam.




Sumber

Helicopter Militer Karya Anak Bangsa

Dirgantara Combat Helicopter “GANDIWA”







Atas kehormatan undangan dari Menejemen Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Bandung kepada penulis untuk hadir dalam beberapa konferensi persnya beberapa waktu yang lalu, alhamdulillah ada beberapa cuplikan yang dapat penulis tuangkan disini.

Posting ini antara lain tentangDirgantara Combat Helicopter “Gandiwa”. Sebuah sarana alat pertahanan keamanan berupa karya dari anak bangsa yang tergolong canggih. Bagi penulis ini sangat menarik dan perlu memberikan apresiasi, dan semoga bermanfaat bagi inspirasi pemerhati. Memang, cinta kepada bangsa dan tanah air dapat dilakukan dengan berbagai cara, -karya teknologi umpamanya-. Atas dedikasi tsb, publik mempunyai kepentingan mengetahui bagaimana akuntabilitasnya. Sebagaimana implementasi Undang-undang Kebebasan Informasi Publik (KIP).




Dirgantara Combat Helicopter GANDIWA merupakan helikopter militer dengan peran utama sebagai pesawat/helikopter tempur, dengan kemampuan menyergap target di darat, seperti musuh infanteri dan kendaraan lapis baja. Dikarenakan helikopter ini dilengkapi dengan persenjataan berat, kadang disebut juga sebagai gunship helicopter. Karena helikopter ini juga dapat dipakai untuk melakukan penyerangan, maka biasa disebut juga sebagai helikopter serang(attackt helicopter).

Senjata yang digunakan pada helikopter tempur ini dapat mencakup autocannons, machine-guns, roket, dan peluru kendali seperti Hellfire. Selain itu helikopter ini juga mampu membawa rudal udara ke udara, meskipun sebagian besar untuk tujuan pertahanan diri.
Secara umum, Dirgantara Combat Helicopter memiliki dua tugas utama : Pertama, untuk memberikan dukungan udara secara langsung dan tepat bagi pasukan darat. Dan kedua, sebagai anti-tank, dimana tugasnya adalah menghancurkan kendaraan lapis baja miilik musuh.

Design Development


Helikopter tempur GANDIWA adalah helikopter dengan konfigurasi 2 orang crew (1 orang pilot dan 1 orang co-pilot/gunner) dengan posisi tandem. Helikopter ini memiliki dua buah engine dan satu buah dengan empat bilah composite bearingless rotor utama (main rotor) dan satu buah rotor ekor (tail rotor). Helikopter ini dilengkapi juga dengan wing pylon untuk mensupport persenjataan yang dibawanya.
Dirgantara Combat Helicopter GANDIWA dikembangkan dengan memakai base helicopter Bell412. Modifikasi utama dilakukan dengan merubah konfigurasi dari konfigurasi side-by-side, menjadi konfigurasi tandem. Selain itu dilakukan desain support untuk senjata-senjata yang akan dibawa.
Main rotor, tail rotor, engine dan juga gearbox diusahakan tidak dilakukan perubahan besar dari basis helikopter. Avionik dan sistem diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan utama dari helikopter ini. Glass cockpit avionic system akan dipakai untuk memudahkan pilot dalam menjalankan misinya. Penambahan sistem senjata dan firing control juga menjadi hal utama yang dilakukan di dalam pengembangan helikopter ini.
Berat dan distribusi berat diusahakan tidak berubah banyak dari basis helikopter. Penumpang dan payload yang biasa dibawa oleh basis helikopter, diganti menjadi senjata dan amunisi pada helikopter tempur GANDIWA.

Sekilas Tentang “Gandiwa”

Nama GANDIWA diambil dari nama senjata milik Arjuna yang didapat dari Dewa Baruna.
Senjata panah sakti ini dilengkapi dengan tabung yang berisi panah yang tak terhingga jumlahnya.
Ctr. Direktur Teknologi dan Pengembangan PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Dr. Andi Alisjahbana memberikan penjelasan ihwal “Gandiwa” ini kepada Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Para Kepala Staf Angkatan dan Petinggi TNI lainnya seusai Rapat Pimpinan TNI yang diikuti dengan Static Show Alat Pertahanan di Markas Besar TNI, Cilangkap .


Spesifikasi Teknis

Karakteristik umum
  • Crew: 2 (pilot, and co-pilot/gunner)
  • Length: 56 ft 1 in (17.1 m)
  • Rotor diameter: 46 ft 0 in (14.0 m)
  • Disc area: 1,662 ft² (154.4 m²)
  • Empty weight: 6,789 lb (3,079 kg)
  • Max takeoff weight: 11,900 lb (5,397 kg)
  • Powerplant: 2 × Pratt & Withney Canada. PT6T-3BE Twin Pac Turboshafts, 900 shp (671 kw) each
  • Fuselage length: 43 ft (13.1 m)

Performansi
  • Maximum speed: 140 knots (259 km/h)
  • Cruise speed: 122 knots (226 km/h)
  • Range: 402 nmi (745 km)
  • Service ceiling: 20,000 ft (6,096 m)
  • Rate of climb: 1,350 ft/min (6.86 m/s)
  • Power/mass: 0.2263 hp/lb (437 W/kg)

Persenjataan
  1. Guns: 1× 30 × 113 mm (1.18 × 4.45 in) M230 Chain Gun with 1,200 rounds
  2. Hardpoints: Four pylon stations on the stub wings.
  3. Rockets: Hydra 70 70 mm, and CRV7 70 mm air-to-ground rockets
  4. Missiles: Typically AGM-114 Hellfire variants; AIM-92 Stinger may also be carried.


Sumber

Alat Pembasmi Kanker Otak Karya Anak Bangsa


Sekelompok ilmuwan CTech Laboratory, sebuah lembaga riset yang berafiliasi dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), berhasil menemukan alat pembasmi kanker otak.


"Ini sebuah terobosan di dunia kedokteran yang telah berhasil dilakukan ilmuwan Indonesia," kata pimpinan tim peneliti CTech Laboratory, Dr Warsito P. Taruno, melalui surat elektronik di Bogor, Jawa Barat, Senin.

Ia mencatat, "Ini pengembangan alat dari riset kami di bidang tomografi, setelah alat pembasmi kanker payudara, kami berhasil mendesain alat pembasmi kanker otak." Ia menyampaikan hal itu usai memberikan pemaparan dalam Temu Ilmiah Nasional Masyarakat Imuwan dan Teknolog Indonesia (Temilnas MITI) wilayah Sumatera Bagian Utara di Kampus Universitas Sumatera Utara, Medan.

Selain itu, dia pun mengemukakan, temuan tersebut menggunakan prinsip yang sama pada alat pembasmi kanker payudara, yaitu menerapkan metode radiasi listrik statis, temuan itu, kata dia, telah diujicoba oleh seorang pasien penderita kanker otak kecil.

"Alhamdulillah, setelah pemakaian dua bulan pasien dinyatakan sembuh total. Saya baru mendapat salinan hasil CT-Scan otak pasien oleh tim dokter rumah sakit," kata Ketua Umum MITI itu.

Kesuksesan tim dari CTech yang didukung oleh perusahaan Edwar Technology ini dipaparkan dalam forum pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 1.500 peserta dari berbagai kampus di Sumut, Sumatera Barat dan Aceh.

Dalam seminar yang juga menghadirkan mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Suharna Surapranata, dan staf pengajar Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Yani Absah, Warsito menceritakan proses terapi dari pasien penderita kanker otak kecil (cerebellum) yang saat pertama datang dalam kondisi yang mengenaskan.

"Karena otak kecil sebagai pengendali sistem motorik tubuh, maka pasien sudah tak bisa menggerakkan seluruh ototnya. Dia hanya bisa terbaring dan tak mampu bergerak, termasuk menelan makanan atau minuman yang diasupkan ke mulutnya," katanya.

Tim peneliti kemudian merancang perangkat yang disesuaikan dengan diagnosis dokter.

Dalam terapi ini, Warsito menjelaskan, pihaknya memang bekerjasama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta.
"Reaksi positif sudah kami peroleh dalam beberapa hari pemakaian. Pasien sudah bisa tersenyum dan sepekan kemudian sudah bisa menerima asupan makanan dan minuman dari mulutnya. Kondisi semakin membaik dalam waktu sebulan karena ia sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dan, puncaknya, dua bulan setelah terapi, pasien dinyatakan sembuh total dari kanker otaknya," katanya.

Ia mengatakan, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang bakal menjadi terobosan dalam dunia kedokteran.

Selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, kata dia, juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya.

"Yang pasti ini akan mengubah metode pengobatan yang selama ini menggunakan radiasi berisiko tinggi dan berbiaya mahal," katanya.

Warsito mengakui bila ini masih dalam taraf penelitian yang perlu dielaborasi lebih jauh. "Perlu kajian dan penelitian lebih lanjut. Mungkin ada hal-hal yang kami belum ketahui, khususnya dalam dunia medis," katanya.

Sementara, mantan Menristek Suharna Surapranata menyambut baik temuan dari tim CTech dan MITI ini.

Menurut dia, perlu kajian lebih lanjut dan partisipasi banyak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan hasil yang lebih baik.

"Kalau mendengar paparan beliau, saya kira ini satu hal yang luar biasa dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya pemerintah. Juga para pemangku kebijakan dari bidang kesehatan agar hasil penelitian dan penemuan ini memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia dan dunia," demikian Suharna Surapranata.


Semoga petinggi negara Indonesia melihat karya anak bangsa, dimana setiap karya-karya tersebut sangat memiliki nilai moral dan perjuangan yang tinggi. Sehingga pemerintah mampu sepenuhnya memberi dukungan baik secara materi maupun secara spiritual.
Dan semoga teman-teman awam ku yang membaca artikel ini, bertambah semangatnya dan bertambah nilai yang positif didalam setiap pemikirannya.




Sumber

ISRA Radar Pengawas Pantai Karya Anak Bangsa



Dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, yang diatasnya bertebaran 17 ribu 560 pulau, jarak dari sabang sampai jayapura sekitar 5 ribu 556 kilometer. Namun luasnya wilayah nusantara ini belum diimbangi dengan kemampuan TNI dan POLRI dalam mengawasi keamanan diseluruh wilayah NKRI. Peneliti dari Pusat Penelitian Elektronik dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPET-LIPI), Masyhuri Wahab di Anyer, Banten, Rabu (10/2), mengatakan, Jumlah kapal yang dimiliki oleh TNI AL sekitar 117 buah dan 77 diantaranya berusia sekitar 21-60 tahun.

Sementara itu Indonesia sendiri idealnya membutuhkan 350 kapal patroli cepat untuk mengamankan seluruh wilayah perairannya. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mencatat, pada tahun 2009 Indonesia hanya memiliki 276 menara suar, seribu 866 rambu suar, dan 65 kapal navigasi, sehingga dengan keterbatasan ini, wilayah perairan Indonesia menjadi sangat rawan pencurian ikan, pelanggaran wilayah oleh kapal asing, pembajakan, dan penyelundupan, sehingga dampak dari itu Negara mengalami kerugian sekitar 188 trilyun rupiah.

Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Suharna Surapranata saat berkunjung ke stasiun uji radar ISRA di Pantai Anyer Banten, Rabu (10/2) mengatakan, sedikitnya Indonesia butuh 800 radar pengawas Pantai untuk bisa memantau seluruh perairan di Indonesia. Radar yang ada selama ini diimpor dengan harga sangat mahal yakni 8 milyar rupiah hingga 10 milyar rupiah per unitnya. Menristek mengharapkan, ke depan, Indonesia tidak lagi mengimpor produk luar karena sudah bisa diproduksi oleh anak bangsa sendiri.

Bertolak dari keterbatasan itu, LIPI merancang radar pengawas pantai yang diberi nama ISRA ( Indonesian Sea Radar ada juga yang menyebutkan Indonesian Sea Radar). Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Profesor Umar Anggara Jenie mengatakan, Radar ISRA ini untuk mengawasi lalu lintas laut sehingga dapat mencegah tindakan yang merugikan Negara, dan juga tabrakan kapal apabila hendak merapat ke pelabuhan. Dia Juga menambahkan bahwa radar tersebut mampu mendeteksi hingga jarak 64 km. Radar ini akan mendeteksi kapal yang berada dalam jangkauan kerja radar ini yang kemudian akan ditampilkan di monitor,"


Kepala LIPI Prof. Umar Anggara Jenie dalam acara peluncuran yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) LIPI Subang, Jawa Barat (Jabar) juga mengatakan terciptanya radar pertama Indonesia ini merupakan bukti bahwa peneliti Indonesia mampu membuat alat berteknologi tinggi. Acara tersebut digelar dalam rangkaian ulang tahun ke-42 LIPI.

"Daripada kita harus membeli peralatan teknologi ke luar negeri dengan harga mahal, lebih baik mendorong peneliti bangsa untuk membangun kemandirian bangsa," kata Umar hari ini.

Peneliti pada Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI Mashury Wahab menjelaskan penelitian ini dilakukan selama 3 tahun. "Kami memiliki tim peneliti sebanyak 20 orang untuk penelitian dan pengembangan ISRA ini," ungkap Mashury.

Sebelumnya, katanya, para peneliti tersebut diberi bantuan oleh Pemerintah Belanda untuk pendidikan dasar. "Setelah mendapatkan dasar pendidikan kemudian kami aplikasikan dan kembangkan," lanjutnya.



ISRA menggunakan teknologi terbaru di bidang radar yakni FM-CW ( Frequency Modulated Continous Wave ), dengan teknologi ini ukuran dan konsumsi daya radar menjadi kecil, sedangkan sistemnya menggunakan komponen yang tersedia secara komersial. Frequensi kerja ISRA adalah pada pita X-band 9,4 Ghz dengan menggunakan dua antenna pemancar dan penerima yang bekerja bersamaan berbentuk modular serta mempunyai daya pancar maksimum 2 watt dengan penguatan (gain) antenna 30 dB.

Keunggulan lain yang dimiliki oleh Radar ISRA adalah termasuk Radar yang Quite LPI ( Low Probability of Intercept ) sehingga tidak mengganggu sistem Radar lain di sekitarnya. Kepala P2ET LIPI Doktor Hiskia mengatakan, selain di Anyer, LIPI menargetkan tahun 2011 ISRA bisa terpasang di dua tempat lainnya yakni di wilayah sekitar seputaran merak dan lampung, bahkan ketika Radar ini sudah terkoneksi menjadi satu sistem maka bisa menjangkau selat sunda secara menyeluruh.


Selain Radar Pengawas Pantai, LIPI juga akan mengembangkan jaringan Radar, Mobile Radar, Radar Pengawas Udara, Radar Penginderaan Jarak Jauh, dan Radar Cuaca. Pemasangan Radar ISRA di menara mercu suar Pantai Anyer karena lokasi ini berdekatan dengan selat sunda yang cukup ramai. Untuk tahap pengujian selanjutnya, LIPI akan meninggikan menara menjadi 10 meter dari 5 meter saat ini, selain itu, LIPI juga menargetkan menghasilkan 2 Radar ISRA lagi untuk di Merak dan Lampung.Lip. Daf-Ike /LPP RRI

Untuk penelitian dan pengembangan radar tersebut Mashury menjelaskan bahwa pihaknya telah mengeluarkan dana hingga Rp3 miliar. "Dana ini terbilang efisien dibandingkan dengan biaya radar yang harus dibeli dari Polandia dengan harga mencapai Rp9 miliar," tutur Mashury

"Kami masih terus mengembangkan beberapa jenis radar semacam ISRA"





Sumber

Bus Listrik Karya Anak Bangsa

Sekarang - sekarang ini, dunia otomotif lagi kasmaran dengan yang namanya kendaraan bermotor khususnya kendaraan roda empat yang menggunakan listrik sebagai asupan tenaga. Prinsip kerja motor listrik ini sendiri diterapkan dan diaplikasikan pada kendaraan bermotor pertama kali pada tahun 1828 oleh Anyos Jedlik, seorang ahli asal Hungaria.
Lalu seiring berjalannya waktu, pengembangan-pengembangan kendaraan dengan sistem tenaga listrik ini pun semakin aktif.
Di tahun 1832 - 1839, Robert Anderson seorang ahli mesin asal Skotlandia menciptakan kereta bertenaga listrik
Di tahun 1835, ada Thomas Davenport, Amerika Serikat, dengan pengembangannya mampu menciptakan motor listrik DC
Di tahun 1890-an, William Morisson asal Des Moines, Amerika Serikat, yang diteruskan oleh Morrison yang memperkenalkan kendaraan listrik yang mampu memuat 6 orang
Di tahun 1890-an juga, sejumlah ahli melakukan pengempangan-pengembangan motor listrik. Dan pada era 1890-an ini, muncul banyak produsen mobil di Amerika Serikat. Antara lain; Anthony Electric, Baker, Columbia, Anderson, Edison, Studebaker, dan Riker.
Bahkan pada tahun 1897, perusahaan Electric Carriage dan Waon Company of Philadelphia, membangun armada taksi yang aterdiri dari mobil listrik.

Melihat pemasaran mobil listrik ini cukup menyakinkan di industri otomotif, lalu perusahaan Nissan di Jepang pun ikut memproduksi mobil khusus yang memakai tenaga listrik, yang diberi nama Nissan Leaf.
Sepanjang tahun 2011 mobil ini laku hingga 10 ribu unit. Lantaran laris manis dipasaran, perusahaan lalu meningkatkan jumpah produksi. Diyakini laku 60 ribu unit di tahun 2013.

Dan belakangan ini, semakin banyak pabrik yang melirik mobil listrik itu. Volkswagen salahsatunya. Raksasa otomotif asal Jerman ini, memilih China sebagai negara di kawasan Asia untuk mengembangkan mobil jenis ini. Rencana akan dimulai pada tahun 2014. Volkswagen yakin, pada tahun 2018, produk mobil listrik ini akan laku hingga 100 ribu unit di kawasan Asia.

Tidak mau ketinggalan, Mitsubishi, pabrik mobil asal Jepang ini juga berencana merubah wujud Mirage yang diluncurkan di Thailand pada akhir Maret 2012 ini, yang semulanya adalah mobil dengan rendah emisi, menjadi mobil listrik. Dan akan dipasarkan di Asia dan Eropa.
KIA, pabrik mobil asal Korea Selatan juga sudah meluncurkan mobil listrik pertama yang diberi nama "Kia Ray EV".
Negeri di semenanjung korea ini juga sudah memasang dan menyiapkan 500 stasiun pengisian/carger untuk mobil listrik. Dan hingga akhir 2012 lalu, setidaknya 3.100 unit pengisian sudah siaga diseluru sudut negeri ginseng ini.

Lalu bagaimana di negeri kita?
Ya, Indonesia juga akan memfokuskan pembuatan mobil listrik ini.
Dan awam ku akan mencoba menampilkan sedikit banyaknya gambar dan spesifikasi dari mobil listrik buatan anak bangsa :)

Beberapa Mobil Listrik Buatan Indonesia

Tucuxi (mobil sport bertenaga listrik)


Mobil sport ini memiliki kecepatan maksimum mencapai 193 km/jam dengan jarak jelajah mencapai 200 mil atau sekitar 321,8 km dalam keadaan charger penuh.
Harga mobil ini adalah Rp 1,5 miliar. Cukup membuat orang awam merinding :D heheTucuxi ini dirakit disebuah bengkel di yogyakarta oleh bpk Ir. Danet Suryatama.
Konsep mobil ini sudah dirancang sekitar tahun 2008.


Bus Listrik (kementerian riset dan teknoligi)

Mobil ini memiliki kecepatan 100 km/jam dengan jarak tempuh 150 km. Mampu memuat penumpang sekitar 15 orang. Bus ini menggunakan tipe brusshless DC motor, kecepatan maksimum 5000 rpm, peak power 300 nm, (wew,. cukup fantastis buat ukuran kecepatan bis). voltage 320 VDC, battery menggunakan lithium 320 VDC 24 amphere dengan berat 2 ton panjang lebih 6 meter.



Ahmadi Mesin 5.0 (buatan dasep ahmadi)


Mobil yang satu ini juga diciptakan oleh orang indonesia dengan konsep city car. Mobil ini diujicoba langsung oleh Dahlan Iskan. Namun mobil ini masih perlu beberapa penyempurnaan lagi sebelum di produksi lebih banyak. Jadi kita tunggu saja kelanjutannya.

Gang Car (PT.Dirgantara Indonesia)


Mobil listrik ini dibuat oleh PT. Dirgantara Indonesia (DI) Mobil ini sudah lama dibuat, sekitar 1 tahun yang lalu. Namun awalnya masih menggunakan bahan bakar minyak. Bpk Dahlan Iskan pun mengusulkan, untuk mengganti dengan tenaga listrik, sehingga terbentukalah "gang car" yang bertenaga listrik. Dengan bentuk yang kecil, sehingga bisa menembus gang di daerah padat, sehingga diberi nama gang car. Harga mobil ini berkisar antara 20 - 30 juta rupiah (harga 2 sepeda motor bebek).


Semar-T (Universitas Sebelas Maret)


Mobil itu menggunakan baterai 36 volt 100 ampere. Menghasilkan tenaga 3 HP (horse power). Badan mobil didesain menggunakan material komposit. Berat total mobil diperkirakan 300 kilogram. Harga mobil ini Rp 20 juta. Mobil dapat digunakan selama 1,5 jam-2 jam. Pengisian baterai 3 - 4 jam. Mobil Semar-T melengkapi inovasi mobil Semar-G (Sebelas Maret Green) yang berbahan bakar bioetanol.


Nah, itu dia tadi beberapa gambar dan spesifikasi mobil listrik hasil karya anak bangsa.
Ya jelas., 
Memilih listrik sebagai tenaga penggerak motor, memiliki keunggulan. Diantarnya :
- menghemat sumber daya alam (gas, minyak)
- mengurangi polusi udara yang berdampak buruk bagi kesehatan makhluk hidup, merusak sirkulasi alam, penipisan 
lapisan ozon, bahkan dapat mengakibatkan hujan asam.
- mengurangi polusi suara (alias gak berisik)
- dan ekonomis dari segi pengisian/charge.

Dari semua uraian diatas, awamku menemukan beberapa trouble dalam penerapan, pengaplikasian, dan pemasaran industri mobil listrik ini. Terbukti dari bangkrutnya beberapa pabrik mobil yang konsentrasinya berada diproduksi mobil listrik ini. Sehingga membuat mereka kembali berorientasi pada mobil bensin-diesel, gas.
Dan toubel-troubel menurut awamku, diantaranya :
- suara yang begitu halus
- stasiun pengisian/charge yang kurang
- kurangnya publikasi tentang prosedur perlakuan (penggunaan, perawatan, perbaikan.)
- harga


Sedikit pembahasan awamku tentang trouble-trouble diatas.
Suara yang begitu halus
Di Paris pernah ada kejadian seorang wanita yang sedang menyeberangi jalan, tiba-tiba ditabrak oleh mobil listrik yang sedang melaju dengan kecepatan rendah. Dan 20% kasus tabrakan terhadap pejalan kaki, dilakukan oleh mobil listrik ini. 
Saat di intograsi,  korban menjawab bahwa dia tidak menyadari/mengetahui adanya mobil, karena sama sekali tidak ada terdengar suara. Hmm walaupun itu salah sendiri karena tidak hati-hati sewaktu menyebrang (lihat kanan-kiri), dan tidak terluka parah, tetapi kejadian tersebut direspon serius oleh pemerintah Perancis. Sehingga menjadi perhatian khusus, dan mengakibatkan kurangnya minat masyarakat terhadap mobil listrik tersebut. 

Stasiun pengisan/charge 
Kurangnya jumlah stasiun-stasiun pengisian baterai ini membuat rasa cemas masyarakat. Dengan kecepatan maksimal 100km/jam, jarak tempuh 150 km, ini membuat masyarakat yang kesehariannya melakukan perjalanan (kerja, aktifitas sehari-hari, dll) yang lebih dari jarak tempuh diatas (>150 Km) akan kesulitan dan menjadikan ini salahsatu kendala besar buat konsumen yang ingin membeli dan menggunakan mobil listrik ini. 

Kurangnya publikasi tentang info atau prosedur perlakuan (penggunaan, perawatan, perbaikan)

Ketidakpahamannya konsumen terhadap prinsip dasar dari penggunaan mobil listrik. Banyak dari konsumen tidak dibekali informasi cukup tentang mobil listrik, trouble apa saja yang kemungkinan terjadi. Ya trouble kecil yang mungkin sehari-harinya dapat terjadi. (ibarat motor dengan bahan bakar minyak/gas; busi banjir, masuknya air ke karburator, nozle tersumbat, convert tidak berfungsi, dll)
Ini membuat konsumen merasa tidak nyaman karena kurang memahami. Sehingga yang membeli karena rasa "ingin tahu" saja, dan agar mendapat "pengalaman baru". Jadi bukan karena kebutuhan. Ini yang pemasaran mobil listrik tergolong sepi.

Harga yang cukup tinggi, bila dibandingkan dengan mobil yang menggunakan bensin, diesel, gas.
Masyarakat sudah terbiasa dan bisa dibilang sudah merasa nyaman dengan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak/gas. Ini yang membuat konsumen sedikit ragu untuk mengeluarkan uang yang lebih banyak dari apa yang sudah dianggap mereka baik dan nyaman.

Dan beberapa masukan untuk teman-teman awamku, khususnya anak bangsa yang terjun langsung kelapangan dalam pembuatan dan pemasaran mobil listrik tersebut. (just opinion)
Untuk suara
Mungkin teman awam pernah mendengar suara motor yang menggunakan bantuan speaker, untuk menambah suara saat berjalan, yg seolah-olah itu suara berasal dari mesin? (suara pesawat, suara sirine, suara seruling, dll). Kita mungkin bisa menggunakan ini sebagai alternatif, dengan suara yang bisa kita atur. Ya, walaupun bertolak belakang dengan salah satu keunggulan mobil listrik ini (tidak berisik), tetapi alternatif ini semata-mata agar mobil bisa memberi tanda keberadaannya saat melaju dijalan. (tidak berisik karena bisa kita atur volumenya, terserah secara prosedur pabrikasi atau secara individu, dan memberi batas maksimal volume suara).

Untuk stasiun pengisian/charge

Seperti yang diterapkan pada hybrid, mungkin bisa juga kita terapkan pada mobil listrik penuh. Dengan memanfaatkan hasil penyimpanan arus, untuk kerja mobil dimalam hari.
Bisa juga kita buat solusi menggunakan portable charge, untuk pengendara yang perjalanannya memiliki jarak tempuh yang jauh, sementara stasiun pengisian belum tersebar banyak.


Kurangnya publikasi tentang info atau prosedur perlakuan (penggunaan, perawatan, perbaikan)
Kita dapat mengkampanyekan, atau mepresentasikan, kepublik luas, dengan cara pameran disekolah-sekolah, kampus-kampus, pelataran tempat-tempat perbelanjaan/mall, disetiap kantor kelurahan/kecamatan, dll, yang tujuannya hanya sekedar memberi informasi/pemahaman tentang prinsip dasar dari mobil listrik ini. Sehingga dapat menimbulkan rasa nyaman karena sudah mengerti. "apa sih mobil listrik ini? bagaimana cara dia beroperasi? ntr aku kesetrum lagi,. owh ternyata mobil listrik ini begini, kerenn.. ok saya nabung buat belinya" :)

Harga
Kata yang terdiri dari 5 huruf ini, mampu membentuk alur kening/dahi menjadi melengkung keatas atau melengkung kebawah (merengut, atau tersenyum) hehe..
Mungkin pemerintah bisa sedikit menambahkan jumlah persen pada pengalokasian dana APBN untuk biaya pengembangan dan biaya produksi. Sehingga bisa memperkecil harga pemasaran. Karena besarnya biaya pemasaran ini, tergantung oleh besarnya biaya pengujian, pengembangan, dan pembuatan (bahan). 

Seperti yang kita ketahui, dana APBN yang dialokasikan untuk bidang teknologi (penelitian/perkembangan) itu sendiri sebesar 0,8% dari jumlah APBN. Dana APBN sendiri pada tahun 2012 tergolong besar. Rp. 1.400 Triliun.
Berarti kalau 0,08% x 1.400 = 1,2 Triliun, ya itu masih dibagi lagi dengan pengujian teknologi lainnya.

(jangan harap wammm., kayak gak tau aja lu..)
Berfikir positif lebih baik, dan mungkin bila melihat lebih jauh, ikut andilnya pemerintah dalam mensuport secara materi dan moral bisa kita jadikan sebagai bentuk keperdulian terhadap pendidikan di Indonesia, khususnya dibidang penelitian dan perkembangan teknologi. Jika serius dan konsentrasi, maka bisa memungkinkan hasil karya anak bangsa memenuhi kebutuhan dalam dan luar negri dibidang industri mobil listrik ini. Sehingga devisa negara bisa bertambah dan bisa digunakan untuk memajukan kesejahtaraan rakyat.

Sedikit cuplikan tentang Bus Listrik (kementerian riset dan teknoligi) di taman pintar, 20 Mei 2013,  Yogyakarta




Terimakasih buat pemerintah, yang mendukung dan memberi semangat, baik secara materi maupun moral perihal kreatif anak bangsa. Terimakasih buat teman-teman awamku yang bertempur dilapangan, dan semoga hal ini bisa memberi motivasi, dan semangat bagi teman-teman  awamku yang lain, untuk tetap berkreasi.

Semoga bermanfaat :)



Referensi

5 Karya anak bangsa yang mengangkasa

5 Karya anak bangsa yang mengangkasa


1. Pesawat N-2130


Pesawat ini merupakan hasil asli PT DI. Pesawat ini berkapasitas 80 sampai 130 penumpang dengan jeroan jet komuter. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia.
Dahulu, Presiden Soeharto berencana menjadikan proyek N-2130 sebagai proyek nasional. Perusahaan PT Dua Satu Tiga Puluh (PT DSTP) dibentuk untuk melaksanakan proyek besar ini.
Saat badai krisis moneter 1997 menerpa Indonesia proyek ini mulai limbung. Setahun kemudian akibat adanya ketidakstabilan politik dan penyimpangan pendanaan, mayoritas pemegang saham melalui RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) meminta PT DSTP untuk melikuidasi diri.
Imbasnya proyek N-2130 menjadi terbengkalai. Pasalnya, pemerintah harus menghentikan bantuan kepada PT DI sebagai bagian kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF).
Untuk preliminary design atau disain awal pesawat ini, PT DI telah mengeluarkan dana lebih dari USD 70 juta. Sesuai keputusan RUPSLB, dana bagi ini selanjutnya dianggap sunk-cost.
Pesawat ini mirip dengan pesawat terbang yang dikembangkan perusahaan Brasil, Embraer. Namun ketika Embraer sekarang ini menghasilkan pesawat Embraer Regional Jet (ERJ) yang banyak digunakan perusahaan penerbangan Amerika Serikat (AS), terutama untuk shuttle flight pada jalur-jalur padat Boston, New York, Washington DC, dan Miami justru N-2130 terseok-seok pengembangannya.

2. Pesawat N-250


N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli PT Dirgantara Indonesia (DI). Pesawat ini diberi nama gatotkoco (Gatotkaca).
Prototipe pesawat N250 pernah terbang menuju Le Bourget Perancis untuk mengikuti Paris Air Show. Penampilan perdana pesawat N250 tersebut mengejutkan para produsen pesaingnya karena merupakan pesawat yang menggunakan teknologi fly by wire yang pertama di kelasnya.
Pesawat ini merupakan primadona PT DI dalam usaha merebut pasar di kelas 50 sampai 70 penumpang. Pesawat ini dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997.
Rencananya program N-250 akan dibangun kembali oleh B.J. Habibie setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan perubahan di Indonesia yang dianggap demokratis.
B.J. Habibie melihat penghidupan kembali produksi pesawat itu berpotensi untuk berkembang karena salah satu pesawat saingannya Fokker F-50 sudah tidak diproduksi lagi karena perusahaan industrinya, Fokker Aviation di Belanda dinyatakan gulung tikar pada tahun 1996.
Pesawat ini menggunakan mesin turboprop 2439 KW dari Allison AE 2100 C buatan perusahaan Allison. Pesawat berbaling baling 6 bilah ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal 610 km/jam (330 mil/jam) dan kecepatan ekonomis 555 km/jam yang merupakan kecepatan tertinggi di kelas turboprop 50 penumpang. Ketinggian operasi 25.000 kaki (7620 meter) dengan daya jelajah 1480 km.

3. Pesawat CN-235


CN-235 adalah sebuah pesawat angkut jarak sedang dengan mesin turboprop kelas menengah bermesin dua. Pesawat ini dirancang bersama antara PT DI dan CASA Spanyol sebagai pesawat terbang regional dan angkut militer.
Kerja sama kedua negara dimulai sejak tahun 1980 dan purwarupa milik Spanyol pertama kali terbang pada tanggal 11 November 1983, sedangkan purwarupa milik Indonesia terbang pertama kali pada tanggal 30 Desember 1983. Produksi di kedua negara di mulai pada tanggal Desember 1986.
Beberapa versi militer CN 235 banyak diminati dan diekspor ke negara lain. Tercatat 22 negara menjadi tujuan ekspor pesawat ini. Negara tersebut di antaranya Amerika Serikat, Arab Saudi, Korea Selatan, Malaysia, Prancis, Spanyol, Turki dan masih banyak lagi.
Australia, Singapura dan Malaysia diam-diam terpukau pada kehebatan insinyur Tanah Air dan mulai mencermati pengembangan pesawat ini lebih jauh dari CN 235 MPA (Maritime Patrol Aircraft) atau versi Militer.
Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 MPA terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya di dunia. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 MPA ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam.
Pengembangan pesawat ini harus terhenti pada saat krisis moneter. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) menilai pesawat ini terlalu mahal dan menyedot investasi.

4. Pesawat N-219


N-219 adalah pesawat generasi baru, yang dirancang oleh Dirgantara Indonesia (PT DI). N-219 menggabungkan teknologi sistem pesawat yang paling modern dan canggih dengan mencoba dan terbukti semua logam konstruksi pesawat terbang.
N-219 memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel efisiensi sistem yang akan digunakan dalam misi multi transportasi penumpang dan kargo. N-219 adalah pesawat multi fungsi bermesin dua. Pesawat ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo.
Sebelum memasuki serial production, PT DI terlebih dahulu akan membuat dua unit purwarupa untuk uji terbang serta satu unit purwarupa untuk tes statis pada tahun 2012. Program pembuatan purwarupa sendiri direncanakan memakan waktu selama dua tahun dengan pengalokasian dana yang dibutuhkan sebesar Rp 300 miliar.
Spesifikasi pesawat N219 dirancang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Pesawat ini mampu mendarat di landasan yang pendek sehingga bisa diaplikasikan di wilayah terpencil dengan lahan terbatas.
Pesawat N219 memiliki potensi besar untuk dipasarkan ke daerah-daerah seperti Sumatera dan Papua. Pesawat ini juga ditargetkan bisa dipasarkan ke negara lain yang masih membutuhkan, misalnya negara-negara di Afrika.
Pembuatan pesawat ini mengharuskan para pemerintah daerah yang akan menggunakan jasanya merogoh kocek sekitar Rp 1 triliun. Angka ini terbilang kecil untuk biaya pengembangan suatu pesawat.

5. Pesawat NC-212


NC-212 Aviocar adalah sebuah pesawat berukuran sedang bermesin turboprop yang dirancang dan diproduksi di Spanyol untuk kegunaan sipil dan militer. Pesawat jenis ini juga telah diproduksi di Indonesia di bawah lisensi oleh PT Dirgantara Indonesia (DI).
Pada Januari 2008, EADS CASA memutuskan untuk memindahkan seluruh fasilitas produksi C-212 ke PT DI di Bandung. PT DI adalah satu-satunya perusahaan pesawat yang mempunyai lisensi untuk membuat pesawat jenis ini di luar pabrik pembuat utamanya.
Pesawat Casa NC 212-200 yang digunakan dalam operasional hujan buatan dilengkapi denganWeather Radar (Radar Cuaca) dan Global Positioning System (GPS). Ketika maskapai penerbangan sipil melihat keberhasilan tipe ini pada operasi militer, CASA membuat versi komersial sipil yang dikirim pertama kali pada bulan Juli 1975.
Sampai 2006 masih tercatat beberapa pesawat ini masih operasional di seluruh dunia termasuk Merpati Nusantara Airlines untuk jalur perintis di Timur Indonesia.

Gimana awam? ini salahsatu bukti bahwa sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkompeten dan mampu saing dengan negara-negara lain.
Kasarnya, masih dengan kondisi negara kita yang seperti ini saja (you know :P), kita masih bisa berkreasi dan berinovasi. Apalagi kalau negara kita memiliki kesadaran yang tinggi yahh.. hehe

Tapi tetap, dari artikel ini kita bisa mengambil nilai positif, bahwa tidak ada alasan buat kita berhenti atau terhenti untuk melakukan hal-hal yang dapat mengharumkan nama bangsa.

Ini baru konteks pesawat terbang lho.. Dan masih ada ribuan bahkan jutaan konteks yang dimana kita bisa mengisinya dengan inovasi-inovasi sebagai bentuk kegiatan positif yang dapat membangkitkan pemuda-pemudi Indonesia yang masih tertidur, untuk kemajuan dan membuat harum Indonesia.
Semoga bermanfaat :)

Sumber